Badan SAR Nasional (Basarnas) telah menemukan sebanyak 37 jenazah di reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Proses pembersihan dan pencarian korban masih terus dilakukan hingga Minggu, 5 Oktober 2025.
Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo menyampaikan bahwa tim pencari korban telah menemukan 26 jenazah hingga malam Sabtu, 4 Oktober 2025. “Total korban yang ditemukan mencapai 130 orang, terdiri atas 104 korban selamat dan 26 meninggal dunia,” ujar Yudhi dalam keterangannya pada hari tersebut.
Pada dini hari hingga pagi ini, kembali ditemukan 11 jenazah di antara puing-puing bangunan. “Hingga laporan terakhir, total 11 korban berhasil diekstraksi pada hari ketujuh,” kata Yudhi.
Selanjutnya, jenazah-jenazah tersebut langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi lebih lanjut. Petugas lapangan tetap berupaya membersihkan puing-puing untuk mencari kemungkinan adanya jenazah yang masih tertimbun.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan bahwa proses pembersihan puing-puing bangunan telah mencapai 60 persen. Hal ini dilakukan untuk membuka jalur evakuasi jenazah.
Dia menargetkan pembersihan puing selesai hari ini. “Kami memberikan target besok (Minggu). Jika sampai bergeser ke hari Senin, hanya tinggal melakukan clean up saja,” ujar Nanang dalam pernyataannya, Sabtu 4 Oktober 2025.
Nanang melanjutkan bahwa petugas telah memfokuskan upaya mereka pada sektor atau titik yang diduga terdapat banyak jenazah korban yang tertimbun. Pihak keluarga diimbau untuk menunggu di posko yang berada di RS Bhayangkara Polda Jatim untuk proses identifikasi.
Proses Evakuasi dan Identifikasi Korban
Proses evakuasi dan identifikasi korban berlangsung secara intensif. Berikut beberapa hal yang menjadi fokus utama:
- Pembersihan Puing-Puing: Petugas terus membersihkan sisa-sisa bangunan untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
- Identifikasi Jenazah: Setiap jenazah yang ditemukan dibawa ke rumah sakit untuk proses identifikasi menggunakan data medis dan informasi dari keluarga.
- Pengamanan Area: Area reruntuhan dijaga ketat untuk mencegah gangguan dari pihak luar dan memastikan keselamatan petugas serta warga sekitar.
- Komunikasi dengan Keluarga: Keluarga korban diimbau untuk tetap berada di posko yang disediakan agar dapat segera menerima informasi terkini.
Tantangan dalam Pencarian Korban
Meski proses pencarian berjalan cepat, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh tim SAR:
- Kondisi Bangunan yang Rusak Parah: Banyak bagian bangunan yang hancur dan sulit dijangkau, sehingga memperlambat proses pencarian.
- Keterbatasan Waktu: Tim harus bekerja cepat karena kondisi cuaca dan risiko tambahan seperti gempa susulan.
- Stres Emosional: Petugas dan keluarga korban mengalami tekanan emosional yang tinggi, sehingga diperlukan dukungan psikologis.
Dukungan dari Masyarakat
Banyak masyarakat dan organisasi lokal memberikan dukungan dalam bentuk bantuan logistik, tenaga relawan, dan dana. Ini menjadi bentuk solidaritas yang penting dalam proses pemulihan pasca-bencana.
Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, SAR, dan masyarakat, diharapkan proses pencarian dan identifikasi korban dapat segera selesai. Semua pihak tetap berkomitmen untuk memastikan setiap korban mendapatkan penghargaan yang layak dan keadilan.
