Mengenal Kuliner Indonesia Ampo, Camilan Unik dari Tanah Liat

Ampo: Camilan Tradisional yang Memiliki Cita Rasa Unik

Ampo adalah salah satu camilan tradisional yang tidak biasa dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Meskipun secara visual terlihat seperti lintingan cokelat, ampo sebenarnya terbuat dari tanah liat yang memberikan cita rasa khas tersendiri.

Ampo dikenal sebagai makanan khas Tuban, meskipun demikian, makanan ini juga dapat ditemukan di berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun 2024, ampo resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Republik Indonesia.

Proses Pembuatan Ampo

Meskipun terbuat dari tanah, proses pembuatan ampo tidak dilakukan secara sembarangan. Bahan dasar ampo adalah tanah kering yang telah ditumbuk hingga halus seperti tepung dan kemudian diayak dengan saringan. Kerikil dan tanah lainnya dibuang agar hanya sisa tanah yang halus yang digunakan.

Setelah itu, tanah yang sudah berbentuk tepung diberi sedikit air dan dibentuk. Adonan ampo dibentuk seperti kue semprong sambil diolesi minyak sayur yang dicampur abu jerami. Selanjutnya, ampo dibakar selama 5 jam di atas tungku api.

Tekstur dan Cita Rasa Ampo

Karena proses pembuatannya yang dibakar, ampo memiliki rasa yang khas. Saat memakannya, kamu akan langsung merasakan aroma seperti bau kerak gosong atau hangus. Sedangkan untuk teksturnya, ampo renyah seperti keripik.

Kandungan Gizi Ampo

Menurut informasi dari website resmi Universitas Gajah Mada pada Jum’at (3/10), Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menyatakan bahwa ampo tidak memiliki nilai gizi karena bahan dasarnya mengandung silika dan alumina yang tidak mudah larut di air dan tidak dapat diserap oleh tubuh.

Sementara itu, keamanan ampo tergantung pada sumber tanah yang digunakan. Jika tanah yang diambil berasal dari daerah selatan gunung berapi dan masih berada di area pegunungan, maka tanah tersebut relatif bersih. Namun, jika tanah yang digunakan berasal dari dekat ladang atau pemukiman yang banyak aktivitas seperti pemupukan, maka ada kemungkinan tanah tercemar pestisida dan logam berat.

Popularitas Ampo dari Masa ke Masa

Ampo pernah menjadi makanan populer untuk sajian hajatan atau dijadikan oleh-oleh. Namun, popularitas ampo mulai menurun sejak awal 1990-an. Hal ini disebabkan oleh jumlah produsen ampo yang terus berkurang akibat tidak adanya regenerasi maupun karena beralih profesi.

Selain itu, proses pembuatan ampo yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari tidak bisa dipercepat, serta bahan dasarnya sulit dicari. Tanah yang digunakan untuk membuat ampo harus menggunakan tanah lempung sawah yang padat, empuk, dan berwarna merah.

Minat terhadap ampo juga semakin berkurang karena semakin banyaknya camilan lain dengan rasa yang lebih sesuai dengan selera masyarakat masa kini. Kini, rata-rata ampo digunakan untuk acara pernikahan atau sunatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *