Kegelapan di Gaza: Tantangan bagi Kemanusian Dunia
Pada 18 September 2025, kota Gaza kembali terjebak dalam kegelapan total. Listrik diputus, jaringan internet dan telekomunikasi dilumpuhkan. Lebih dari dua juta jiwa hidup tanpa akses dasar untuk berkomunikasi, mencari informasi, bahkan sekadar menghubungi keluarga. Kondisi ini memperlihatkan betapa sulitnya kehidupan di kawasan yang selama ini menjadi pusat konflik.
Rumah sakit kehilangan koordinasi dengan ambulans, sementara tim penyelamat tak bisa mengetahui di mana korban berada. Di tengah kekacauan itu, ribuan tank Israel mengepung kota, dan jalur Salah al-Din dibuka sebagai “koridor evakuasi” yang sejatinya mendorong eksodus massal. Dunia menyaksikan, tetapi suara warga Gaza tak lagi terdengar. Pemutusan komunikasi bukan sekadar tindakan militer, melainkan strategi untuk membungkam penderitaan.
Gaza adalah salah satu wilayah yang selama ini dikenal memiliki jurnalis warga yang aktif mengabarkan situasi secara langsung. Dengan internet padam, kamera mereka seakan dipaksa mati. Dunia kehilangan mata dan telinga, sementara bom terus dijatuhkan ke kawasan padat penduduk. Dalam kondisi ini, kita perlu bertanya: sejauh mana nurani dunia akan diuji?
Reaksi Internasional yang Terbatas
Reaksi internasional memang muncul. Belgia melarang impor dari Israel, Spanyol memperkuat embargo senjata menjadi undang-undang resmi dan menutup pelabuhan serta wilayah udaranya bagi segala bentuk distribusi senjata ke Israel. Norwegia memutuskan untuk melakukan divestasi dari perusahaan yang berafiliasi dengan kepentingan Israel. Uni Eropa juga tengah membahas sanksi baru terhadap pejabat sayap kanan Israel serta menangguhkan sebagian kerja sama dagang.
Di luar ranah pemerintahan, lebih dari 4.000 seniman Hollywood menandatangani petisi boikot terhadap perusahaan, festival, dan siaran yang memiliki hubungan dengan Israel. Gerakan serupa juga muncul di dunia olahraga, termasuk cabang balap sepeda dan catur. Bahkan Sekretaris Jenderal PBB menyampaikan peringatan agar komunitas internasional tidak tunduk pada intimidasi.
Namun, di balik deretan pernyataan itu, Gaza tetap terkepung. Listrik tidak menyala, komunikasi tetap terputus, dan deru tank masih terdengar. Situasi ini memperlihatkan jurang yang lebar antara retorika dan kenyataan. Dunia memang lantang bersuara di forum-forum resmi, tetapi sunyi di medan Gaza. Kecaman seolah berhenti di podium diplomasi, tidak berubah menjadi langkah konkret yang bisa menyelamatkan nyawa.
Ujian bagi Kemanusiaan Universal
Krisis Gaza seharusnya dipahami sebagai ujian bagi kemanusian universal. Perang bukan hanya soal perebutan wilayah atau kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana nilai dasar manusia dipertahankan. Ketika air, listrik, rumah sakit, bahkan sinyal telepon dijadikan senjata, maka jelas terjadi pelanggaran hukum perang. Protokol Jenewa secara eksplisit melarang serangan terhadap infrastruktur sipil vital yang menopang kehidupan masyarakat.
Namun, semua itu kini berlangsung terang-terangan di Gaza. Pertanyaannya, apakah dunia cukup puas mencatat jumlah korban atau berani menuntut akuntabilitas pelaku? Diplomasi juga perlu bergerak lebih berani. Sanksi dan boikot tidak boleh berhenti pada simbol. Tidak bisa di satu sisi negara mengecam, tetapi di sisi lain tetap melanjutkan kerja sama ekonomi dan militer.
Solidaritas Harus Berubah Menjadi Aksi Nyata
Dunia perlu menunjukkan konsistensi jika tidak, Israel akan terus merasa kebal dan Gaza akan terus menjadi korban. Namun, solidaritas tidak boleh berhenti pada kata-kata. Selama ini, dunia terlalu sering terjebak dalam retorika. Dari sidang umum PBB hingga pernyataan organisasi internasional, kecaman terdengar lantang, tetapi Gaza tetap terbakar. Kata-kata tanpa aksi hanyalah gema kosong.
Dunia harus bergerak dari simbol ke substansi: dari pidato ke sanksi, dari doa ke tindakan, dari simpati ke solusi. Kegelapan Gaza adalah metafora tentang kegelapan nurani dunia. Ketika lebih dari dua juta manusia diputus dari listrik, air, dan komunikasi, itu artinya hak dasar mereka dilucuti. Membiarkan kondisi itu berlangsung berarti menutup mata terhadap nilai kemanusiaan. Diam adalah bentuk persetujuan. Bertindak adalah satu-satunya cara menjaga martabat manusia.
Masa Depan yang Tergantung pada Tindakan
Sejarah akan mengingat respons dunia terhadap Gaza. Generasi mendatang akan bertanya apakah kita hanya menjadi saksi pasif atau berani berdiri membela kemanusiaan. Gaza memang jauh dari sebagian besar kita secara geografis, tetapi penderitaan mereka adalah cermin masa depan kita. Jika hukum bisa diabaikan di Gaza, maka hukum bisa diabaikan di tempat lain. Jika kemanusian bisa diabaikan di Palestina, maka kemanusiaan di seluruh dunia terancam.
Hari ini Gaza diselimuti gelap, tetapi yang lebih menakutkan adalah jika nurani dunia ikut padam. Solidaritas harus melampaui batas kata-kata. Dunia perlu bergerak, bukan hanya berbicara. Gaza tidak butuh belas kasihan, Gaza butuh aksi nyata. Kejahatan perang Israel makin menggila, tak akan berhenti hanya dengan kecaman. Kehadiran Tentara Islam di bawah komando Khalifah sangat dinantikan. Penguasa negeri muslim dan umat harus bangkit dan bersatu untuk mengembalikan Khilafah sebagai perisai umat dan membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel.
Sepanjang sejarah Islam, Yahudi adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin. Allah jelaskan dalam QS Al-Maidah: 82 “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.
